Google search

Google

Saturday, February 24, 2007

My Family

Photo Album


Adit di tegehsari





Ajik dan ogek di bedugul October 1999



Adit



Ogek upacara 3 bulanan, sembung


Niang-niang


Ogek di muding


Sitha di muding


Putu dan ogek di canggu 1999



Ogek di muding



Ogek di sembung 3 bulanan 9-9-1999

Ajik dan Adit di muding

Ajik adan Adit di tegaljaya

Monday, January 1, 2007

Jujur dan Rendah Hati

Yu Qian tinggal di Kota Qiantang selama Dinasti Ming ( sekarang Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang ). Ketika ia berumur tujuh tahun, seorang biksu meramalkan bahwa ia akan menjadi perdana menteri yang akan menyelamatkan negara. Yu Qian kemudian menjadi jendral yang terkenal. Ia menerima banyak penghargaan atas keberhasilannya dan menduduki banyak posisi militer yang penting sepanjang hidupnya. Ia seorang yang baik, lurus, jujur dan adil. Ia tidak menjilat atasannya tetapi disegani oleh semuanya.

Yu Qian sangat memperdulikan kehidupan orang-orang selama masa jabatannya sebagai inspektur lapangan untuk dua provinsi, orang-orang menganggap dan menghormatinya seperti orang tua. Sebuah puisi yang menyanjungnya tersebar luas, "Surga mengirimkan seorang pejabat yang baik untuk menyelamatkan dua provinsi."

Jika ada pejabat dari luar wilayah yang mengunjungi ibukota ia diharapkan membawa uang dalam jumlah besar dan oleh-oleh dari daerahnya untuk menyogok atasannya. Setiap kali Yu Qian pergi ke ibu kota selalu tidak membawa apa-apa. Ia tidak pernah menerima hadiah atau menyogok orang lain.

Provinsi Henan terkenal akan jamur dan dupanya. Pejabat disana menyarankannya paling tidak ia membawa jamur dan dupa jika tidak membawa emas, perak atau mutiara ke atasan yang akan ia temui. Yu Qian mengangkat tangannya dan bergurau bahwa yang akan dibawa olehnya adalah angin sepoi-sepoi di lengan bajunya. Tahun-tahun berikutnya, orang menggunakan istilah "angin sepoi-sepoi di lengan bajunya untuk memuji pejabat yang tidak korupsi. Dari sinilah istilah populer di Tiongkok ini berasal.

Meskipun Yu Qian memegang posisi penting, ia tetap hidup sederhana. Rumahnya sangat sederhana dan hanya berfungsi sebagai tempat berteduh dari angin dan hujan. Kecuali jubah dan pedang yang diberikan kaisar, di dalam rumahnya tidak ada suatu benda berharga apapun. Kaisar menghadiahkan rumah besar dekat Xihuamen. Ia berkata, "Negara kita mengalami banyak penderitaan. Bagaimana mungkin saya, sebagai hamba mencari kemewahan dan kenyamanan?" Ia dengan tegas menolaknya.

Yu Qian banyak memberi sumbangan besar, tetapi ia tidak pernah menunjukannya. Suatu ketika ia menang besar dalam medan perang, Shi Xiang, seorang marsekal yang sumbangannya lebih kecil daripada Yu Qiang, dianugerahi Shihou (pangkat tinggi didalam masyarakat yang dapat diwariskan kepada anak cucu pada orang yang bersangkutan).

Marsekal itu merasa bersalah dan menulis surat kepada Kaisar untuk merekomendasikan anak Yu Qian, Yu Mian. Kaisar mengeluarkan perintah kerajaan untuk mengundang Yu Mian ke ibu kota. Yu Mian berterima kasih kepada kaisar, tetapi menolak untuk datang ke ibu kota.

Yu Qian berkata, "Negara kita mengalami banyak kesusahan. Sebagai hamba, saya tidak dapat mementingkan kepentingan diri sendiri." Ia menunjukkan pandangannya dengan tegas, "saya tidak dapat membiarkan anakku menyalah gunakan keberhasilan saya."

Yu Qian mencontoh kepribadian yang setia dan lurus didalam sejarah sebagai contoh untuk dirinya. Ia menolak untuk menyalah gunakan kekuasaan. Ia adil dan lurus sepanjang hidupnya, Ia menulis dua buah sajak, Angin Utara Bertiup dan Pujian untuk Batu Gamping, menunjukkan aspirasinya. Ketulusan dan jiwa yang tidak kenal takut menjunjung prinsip-prinsip mengalir dalam puisinya, prinsip-prinsip kehidupan Yu Qian.

Beberapa tahun kemudian, Yu Qian dihukum mati setelah difitnah oleh pejabat yang korup. Ia dikuburkan di daerah pegunungan Santai di Danau Barat. Kuburannya terletak agak jauh tetapi berhadapan dengan kuburan Yue Fei - seorang jendral yang terkenal akan kesetiannya dan kelurusannya.

Bangsa dan orang yang jujur dan lurus akan dipuja selama ribuan tahun!

( Sumber : minghui.ca )

Tidak Mengharapkan Penghargaan

Hari ini tanggal satu January 2007, hari pertama buat aku untuk mempelajari dan mendalami komunitas blogger, dan ini adalah tulisan pertamaku dalam situs bloggerku..

Yang aku harapkan, dari rekan-rekan yang membaca tulisanku ini, saran serta bimbingan agar tulisanku bisa menjadi sesuatu yang berarti dan bermanfaat.

Terima kasih.

Orang Lurus Tidak Mengharapkan Penghargaan ( Sumber : www.zhengjian.org )

Mo Zi, juga bernama Ju adalah penggagas falsafah maoisme pada musim semi dan gugur serta masa-masa peperangan antar negeri di China. Ia menganjurkan keharmonisan dan persamaan antar rakyat serta menentang invansi dan peperangan. Mo Zi ingin menyelamatkan dunia dari bahaya dan menegakkan kelurusan (kebenaran). Ia percaya bahwa kelurusan yang dapat bermanfaat bagi bangsa dan negara. Oleh karena itu, ia menempuh perjalanan keliling negeri sebagai seorang biksu pertapa. Dengan upaya keras ia tidak hanya mencoba menganjurkan doktrin dan pemikiran-pemikirannya, namun juga menghentikan terjadinya hal-hal yang tidak benar.

Seorang tukang kayu terkenal bernama Gong Shuban telah membuat sebuah tangga untuk memanjat tembok kota bagi tentara Chu. Raja Chu berencana menggunakan senjata untuk menyerang negeri Song. Pada saat itu, Mo Zi tinggal di negeri Lu. Ketika mendengar kabar tersebut, ia segara melakukan perjalanan ke ibu kota negeri Chu. Ia berjalan sepuluh hari sepuluh malam untuk mencapainya. Ia kemudian mendatangi Gong Shuban. Mo Zi berkata kepada Gong Shuban, "Seseorang dari utara telah menghina saya. saya ingin anda membunuhnya untuk saya. Perkenankan saya membayar anda 10 gram emas sebagai penghargaan."

Gong shuban tidak senang dan berkata, "Saya berbuat dengan benar dan tidak pernah membunuh orang sesuka hati."

Mo Zi berdiri, menunduk padanya, dan berkata, "Saya dengar, anda telah membuat sebuah tangga pendakian untuk menyerang negeri song. Kesalahan apa yang telah dibuat oleh negeri Song? Negeri Chu telah memiliki wilayah yang luas tetapi populasinya sedikit. Anda akan mengorbankan populasi yang sedikit itu demi memperoleh perluasan wilayah, yang kemungkinan tidak dapat Anda manfaatkan. Menurut saya hal tersebut tidak bijaksana. Negeri Song tidak pernah melakukan kesalahan apapun sehingga tidak pantas diserang. Menyerbu negeri Song tidaklah berbelas kasih. Anda mengerti prinsip ini, tetapi Anda tidak mencoba menghentikan hal yang tidak benar. Ini bukan sikap seorang ksatria. Anda berkata, bahwa Anda tidak pernah membunuh orang sesuka hati, tetapi Anda akan membunuh setiap orang di negeri song. Anda benar-benar orang yang tidak bijaksana."

Gong Shuban dapat menerima apa yang dikatakan Mo Zi. Tetapi ia telah berjanji untuk membantu Raja Chu menyerang negeri Song. Atas permintaan Mo Zi, ia setuju untuk memperkenalkan Mo Zi kepada Raja Chu.

Ketika ia bertemu dengan Raja Chu, Mo Zi berbicara tentang prinsip-prinsip kelurusan (kebajikan) utama. Sang Raja setuju dengan prinsip-prinsip tersebut. Tetapi ia masih berkata, "Karena Gong Shuban telah membuat tangga pendakian itu untuk saya, saya harus menyerang negeri Song."

Mo Zi menanggalkan ikat pinggangnya dan menaruhnya dalam bentuk lingkaran seperti tembok kota. Ia menggunakan beberapa potongan balok kayu kecil, memperagakan peralatan untuk melindungi kota itu. Ia meminta Gong Shuban untuk melakukan permainan perang-perangan denganya. Gong Shuban mencoba beberapa strategi dan taktik untuk menyusun berbagai serangan. Tetapi Mo Zi dapat memukul mundur setiap serangan. Gong Shuban pada akhirnya harus mengaku kalah.

Tetapi Gong Shuban lalu berkata, "Saya punya taktik baru untuk mengalahkan Anda, tetapi saya tidak akan memberitahu Anda."

Mo Zi berkata, "Saya sudah mengetahui taktik baru Anda, tetapi saya juga tidak ingin memberitahu Anda."

Raja bertanya kepada mereka tentang apa yang sedang mereka bicarakan. Mo Zi berkata, "Gong Shuban ingin membunuh saya. Jika saya mati, dia berpikir tidak ada orang yang akan membantu negeri Song mempertahankan negeri. Akan tetapi, saya telah mengirim tiga ratus murid saya ke negeri Song. Mereka telah dipersenjatai untuk mempertahankan kota itu. Mereka telah benar-benar siap menghadapi serangan Anda. Maka sekalipun Anda membunuh saya, Anda tidak akan dapat membunuh semua yang telah mengetahui taktik pertahanan saya. sehingga negeri Chu tetap tidak akan dapat mengalahkan negeri Song.

Mo Zi telah berhasil mencegah Raja Chu untuk menyerang negeri Song. Ia kemudian mempersiapkan perjalanan kembali kenegeri Lu. Dalam perjalanan pulang, ketika ia melewati negeri Song terjadi hujan lebat. Ia hendak mencari tempat berlindung dari hujan di kota itu. Tetapi para penjaga bahkan tidak membiarkanya masuk. Tidak seorangpun tahu bahwa ia baru saja menyelamatkan negeri Song dari bencana besar. Rakyat negeri Song telah berhutang sangat besar kepada Mo Zi, namun Mo Zi tidak mengharapkan penghargaan apapun dari negeri Song.

( Sumber : www.zhengjian.org )